KARAKTERISTIK BANJIR PUNCAK PADA SUNGAI-SUNGAI DI PULAU JAWA

KARAKTERISTIK BANJIR PUNCAK PADA SUNGAI-SUNGAI DI PULAU JAWA
The Characteristics of Peak Flood of Rivers in Java Island

William M. Putuhena, Wanny K. Adidarma, dan Sri Mulat Yuningsih

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Air
Jln. Ir. H. Juanda No.193, Bandung 40135

ABSTRAK

Karakteristik banjir puncak untuk sungai-sungai di Pulau Jawa mengalami perubahan atau tepatnya secara statistik mengalami pergeseran distribusi peluang. Hal ini ditunjang oleh kajian perubahan iklim global. Berdasarkan data debit maksimum tahunan yang terkumpul di 66 lokasi pos duga air yang tersebar di Pulau Jawa dari tahun 1919 sampai dengan 2001, dapat dihitung besaran banjir rencana dengan berbagai periode ulang serta distribusi peluang dari dua kelompok seri data. Dari kajian tersebut dapat disimpulkan bahwa ada indikasi pergeseran distribusi di Citarum-Nanjung, Cikapundung-Gandok, dan Cisadane-Batubeulah. Besaran banjir puncak spesifik (m3/detik/km2) mengecil bilamana luas daerah aliran sungai membesar. Di beberapa lokasi, banjir puncak spesifik membesar (lebih besar dari 1 m3/detik/km2) karena pengaruh dari hujan badai terpusat yang digambarkan melalui peta isohit. Jadi, besarnya banjir puncak sangat dipengaruhi oleh kondisi badai setempat selain perubahan iklim global serta pemicu lain seperti perubahan fungsi lahan.

ABSTRACT

The characteristics of peak flood for rivers on Java island have been changing or, statistically speaking, the frequency distributions have been moving sideways. It is supported by the globally climate changes. Based on annual maximum discharge (instantaneous) in 66 gaging stations from 1919 to 2001, the magnitude of design flood and distribution frequency of two groups of data were analysed. A shift in the distribution at Citarum-Nanjung, Cikapundung-Gandok and Cisadane-Batubeulah indicates a consequence of climate changes. The yields of peak flood per square kilometer were decreasing when the basin areas increase. In some location, such as at the centre of storm, the specific yield became larger (more than 1 m3/sec/km2). It concludes that the magnitude of peak flood depends on the geographic condition of the sites, which affect the characteristics of the storm, as well as the global climate changes and the changes of land use pattern.

PENDAHULUAN

Banjir besar sering terjadi akhir-akhir ini di daerah yang sebelumnya jarang dilanda banjir. Faktor penyebab banjir sangat kompleks karena melibatkan alam (meteorologi dan hidrologi), perencanaan, operasi dan pemeliharaan infrastruktur (bendung dan bendungan), pengaturan tata ruang, dan lain-lain. Interaksi antar faktor-faktor penyebab tersebut menghasilkan tingkat kerentanan terhadap banjir. Kerja sama yang baik antar-instansi terkait dengan masyarakat dalam menata fungsi lahan dapat mengurangi tingkat kerentanan atau bahkan mengurangi besarnya banjir. Salah satu akar permasalahan banjir adalah faktor lingkungan yang diwakili oleh hujan dan aliran air di sungai yang secara hidrologis digambarkan sebagai hidrograf dengan puncak dan volume banjir. Kejadian debit maksimum atau banjir puncak hanya beberapa saat, tetapi mampu menimbulkan saat kritis yang dapat menghancurkan tanggul atau tebing; melimpaskan air karena melebihi kapasitas tampung sungai, menyebabkan bendung atau bangunan air lainnya jebol. Dampak dari kejadian tersebut adalah penggenangan air di wilayah permukiman dan pertanian.
Oleh karena itu dianggap perlu untuk mengkaji karakteristik banjir puncak ditinjau dari perubahannya dalam dekade terakhir maupun kemampuan dari daerah aliran sungai (DAS) dalam menanggapi hujan badai.

KARAKTERISTIK BANJIR PUNCAK DARI SUNGAI-SUNGAI DI PULAU JAWA

Uraian umum
Aliran air di sungai yang dengan cepat menaik membentuk sebuah hidrograf dimana debit aliran maksimum yang tercapai sering disebut sebagai banjir puncak. Makin besar banjir yang terjadi, peluang terjadinya makin kecil. Banjir puncak yang pada umumnya terjadi digambarkan oleh periode ulang 2 tahunan dan nilainya hampir sama dengan rata-rata seri data. Analisis hidrologi banjir hanya dapat dilakukan jika data debit maksimum tahunan (sesaat) dari pos duga air di lokasi tertentu tersedia dalam periode yang cukup panjang (biasanya minimal 20 tahun). Satu-satunya metode yang digunakan dalam analisis ini adalah analisis frekuensi (Kite,1988).
Karakteristik banjir puncak selama dekade terakhir
Periode setelah tahun 1990 merupakan masa dimana nilai ekstrim besar (banjir) dan kecil (kekeringan) sering terjadi. Hal ini mungkin terjadi oleh karena adanya perubahan iklim global yang terjadi akhir-akhir ini akibat adanya pemanasan global (Burroughs,2003). Dampak dari adanya perubahan iklim ini dapat dideteksi apabila seri data debit maksimum tahunan cukup panjang, seperti halnya di Citarum-Nanjung (40 tahun), Cikapundung–Gandok (33 tahun), dan Cisadane–Batubeulah (30 tahun) (Gambar 1). Perubahan atau pergeseran distribusi peluang mencirikan adanya penyimpangan, apalagi kalau pergeseran tersebut menghasilkan peluang terjadinya debit yang lebih besar menjadi makin meningkat. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 2, 3, dan 4.
Pergeseran distribusi peluang pada bagian mode sangat nyata pada Gambar 2 karena periode seri data yang digunakan sangat berbeda yaitu 1919-1935 dan 1973-2001, lain halnya dengan Gambar 3 dan 4.
Banjir puncak yang lebih kecil dari 30 m3/detik pada tahun 1958-1974 tidak pernah terjadi, tetapi pada periode 1974-1994 terjadi paling tidak sekali (Gambar 3). Demikian pula halnya dengan Cisadane-Batubeulah kejadian banjir ekstrim besar dan kecil terjadi pada periode terakhir (1984-2000), hal ini dapat dicermati pada bagian ekor (tail) dari distribusi peluang (Gambar 4).
Pada Gambar 4 jelas terlihat bahwa pada periode tahun 1984-2000 banjir maksimum yang lebih besar dari 800 m3/detik lebih sering terjadi dan bahkan lebih besar dari 1.050 m3/detik yang belum pernah terjadi pada periode 1969-1982.

Karakteristik banjir puncak rencana

Kajian terhadap sifat hujan badai
Analisis banjir rencana diterapkan pada sekitar 66 lokasi pos duga air yang tersebar di Pulau Jawa; Jawa Barat (Jabar) 39 pos, Jawa Tengah (Jateng) 12 pos, dan Jawa Timur (Jatim) 14 pos (Gambar 1) (Pusair,1995). Hasil perhitungan dapat dilihat pada Lampiran 1 (Pusair,1995). Sebagian besar seri data debit maksimum tahunan mempunyai panjang sekitar 20 tahun. Oleh sebab itu debit banjir rencana yang diperhitungkan dalam kajian ini hanya maksimal sampai dengan periode ulang 50 tahun saja (Lye,1991). Untuk memberikan gambaran mengenai besarnya banjir maksimum yang terjadi pada setiap kilometer persegi DAS, besaran banjir puncak terutama bagi periode ulang 2 tahun dibagi dengan luas DAS. Daerah rawan banjir secara hidrologis mempunyai ciri besarnya banjir rencana per kilometer persegi cukup tinggi apalagi bila disertai dengan rasio antara banjir rencana periode ulang 50 dan 2 tahun cukup tinggi. Hal yang pertama, banjir puncak rencana per km2 sangat bergantung pada curah hujan badai (storm) yang terjadi. IOH (1983) membuat peta Mean Annual Maximum 1 Day Rainfall yang dapat digunakan sebagai indikator wilayah sub-DAS yang menerima hujan badai yang cukup tinggi, misalnya lebih dari 160 mm/hari (Gambar 5).

Gambar 2. Distribusi peluang banjir puncak Citarum-Nanjung, luas DAS = 1.675 km2

Gambar 3. Distribusi peluang banjir puncak Cikapundung-Gandok, luas DAS= 90 km2

Gambar 4. Distribusi peluang banjir puncak Cisadane-Batubeulah, luas DAS = 820 km2

Wilayah Banten mempunyai pusat badai di 180 mm. Sub-DAS yang kena pengaruh adalah Cisata-Pasirseureuh dan Cikadueun-Cibogo. Hulu Cikadueun-Cibogo kena pengaruh pusat badai tersebut, sehingga menghasilkan banjir rencana 2 tahunan sebesar 2,6 m3/detik/km2. Tidak demikian halnya dengan Cisata yang hanya 1 m3/detik/km2. Di wilayah Sukabumi Selatan pusat badai 180 mm memanjang mengikuti garis pantai. Sub-DAS yang ada di dalam adalah Ciletuh-Cipiring dan Cilangla-Leuwineutek yang menghasilkan debit banjir rencana masing-masing 2,0 dan 1,6 m3/detik/km2. Dekat wilayah Semarang terbentuk pusat hujan 160 mm dimana Sungai Kupang-Pageukir mengalir dan menghasilkan debit 1,3 m3/detik/km2. Sebelah barat Yogyakarta terdapat pusat hujan 160 mm dimana Sungai Jali-Winong berada sehingga menghasilkan debit banjir 1,8 m3/detik/km2. Di bagian selatan Malang ada pusat badai 180 mm dimana Bagong-Temon berada dengan banjir 3,7 m3/detik/km2, dan agak ke barat dimana Grindulu-Gunungsari terletak yang banjirnya mencapai 2,5 m3/detik/km2.

Kajian terhadap luas DAS
Banjir puncak yang lebih besar dari 1 m3/detik/km2 seperti yang sudah dijelaskan tidak diikutsertakan dalam perhitungan persamaan antara banjir puncak dan luas DAS karena pengaruh hujan sangat dominan pada kasus tersebut. Dari Gambar 6 terlihat bahwa untuk Jabar variasi banjir sangat besar. Banjir besar terjadi pada wilayah Banten dan Jateng Utara, sedangkan Cimanuk, Citarum, dan Citanduy berada di bawah 0,6 m3/detik/km2, begitu pula halnya dengan Jateng Selatan dan Jatim.

Bila titik-titik tersebut dikelompokkan per wilayah maka akan dapat dihasilkan tiga persamaan sebagai berikut:

1. Cimanuk, Citarum, Cisadane, K. Solo, dan K. Brantas
y = – 0,1567 log x + 0,7728 dengan R2 = 0,8002……………………..(1)
2. Banten, Sukabumi, Citanduy, K. Solo, dan K. Brantas
y = – 0,2841 log x + 1,3072 dengan R2 = 0,7160…………………….(2)
3. Jateng, K. Solo, dan K. Brantas
y = – 0,3198 log x + 1,4461 dengan R2 = 0,8475……………………(3)

dimana:
y = banjir puncak rencana periode ulang 2 tahun (m3/detik/km2)
x = luas DAS (km2)
R2 = koefisien deterministik menggambarkan korelasi antar y dan x.

Persamaan (2) dan (3) menghasilkan lengkung yang hampir sama, terlihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Hubungan antara luas DAS (DPS) dengan banjir puncak periode ulang 2 tahun

Khusus untuk Bengawan Solo dengan luas DAS lebih dari 5.000 km2, terlihat jelas pada Gambar 7, banjir puncak rencana spesifik bertambah kecil bila luas DAS bertambah besar. Meskipun debit banjir periode ulang 2 tahun untuk Babat, Bojonegoro, Cepu, Kauman, dan Napel tidak berurutan besarnya sesuai dengan luas DAS-nya dibandingkan dengan Babat, Bojonegoro, dan Cepu (Tabel 1), tetapi jika dihitung berdasarkan debit spesifiknya (Gambar 7), terlihat bahwa makin besar luas makin kecil debit banjr spesifiknya. Secara hidrograf hal ini berarti puncak mengecil tetapi volume hidrograf bertambah besar jika luas DAS bertambah.

Gambar 7. Grafik banjir rencana periode ulang 2 sampai dengan 50 tahun untuk Bengawan Solo

Kajian terhadap rasio banjir rencana periode ulang 50 tahun dan 2 tahun. Besarnya perbandingan antara banjir rencana periode ulang 50 tahun dengan 2 tahun berkisar antara 1,1 – 5,0. Untuk Jabar berkisar antara 1,1 – 5, Jateng dan Jatim berkisar 1,1 – 3,0.

KESIMPULAN

  1. Banjir puncak atau banjir maksimum tahunan pada periode tahun 1970-2000 mengalami perubahan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ada indikasi bahwa banjir-banjir besar lebih sering terjadi. Hal ini terjadi karena beberapa faktor penyebab seperti dampak dari perubahan iklim global ditambah perubahan fungsi lahan yang keduanya memacu banjir puncak untuk membesar.
  2. Sungai di daerah Banten dan Jateng Utara pada dasarnya secara alami termasuk rawan banjir menurut hasil analisis banjir rencana dipandang dari sifat hujan badai. Tingkat kerawanan akan meningkat bila dipicu oleh pengalihan fungsi lahan hutan atau sawah menjadi perkotaan.

DAFTAR PUSTAKA

Burroughs, William. 2003. Climate Into the 21st Century. Cambridge University Press. p. 20.
Kite, G.W.1988. Frequency and Risk Analysis in Hydrology. Water Resources Publications. Colorado.
Lye, L.M.1991. An Introduction to Probabilistic Modelling for The Water Resources Engineer. Course Notes. Memorial University of New Zealand, St. John’s (Unpublished).
Institute of Hydrology (IOH). 1983. Flood Design Manual for Java and Sumatra. Wallingford, Oxon, UK.
Pusair. 1995. Penelitian debit banjir periode ulang Pulau Jawa. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pengairan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pekerjaan Umum, Departemen Pekerjaan Umum (Tidak dipublikasikan).

KLASIFIKASI MULTISPEKTRAL PENUTUP LAHAN CITRA ALOS AV-NIR 2

KLASIFIKASI MULTISPEKTRAL PENUTUP LAHAN CITRA ALOS AV-NIR 2

Oleh:

Asgan Riza N (1), Bayu Raharja (2), M. Fauzi (2)

Balai Hidrologi dan Tata Air

Pusat Litbang SDA

1)       Staff Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral

2)       Staff Balai Hidrologi dan Tata Air, Calon Peneliti Hidrologi dan Konservasi Tata Air

1.   PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

  • Perlunya data penggunaan lahan secara multitemporal untuk kegiatan penelitian Experimental Basin Cimanuk sebagai salah satu parameter dalam analisis banjir.
  • Sejauh ini belum ada peta penggunaan lahan yang up-to date baik dari segi sumber data pembuatan, maupun tahun pembuatan.

MAKSUD DAN TUJUAN

  • Maksud dari kegiatan ini adalah memperoleh informasi yang up-to date dari citra satelit untuk mendapatkan peta  penggunaan lahan sedetail mungkin sebagai salah satu paramater dalam analisis banjir.
  • Tujuan dari kegiatan ini diperolehnya peta penggunaan lahan yang up-to date.

2.   METODE

Alat dan Bahan :

  • Alat yang digunakan komputer, software image processing dan GIS, GPS untuk survey lapangan
  • Bahan yang digunakan Citra ALOS AV-NIR, peta RBI, dan peta DAS Cimanuk

Metode yang digunakan: Klasifikasi Multispektral

3.   KETERSEDIAAN DATA

Spesifikasi citra ALOS AV-NIR yang didapat dari Working Group adalah sebagai berikut:

  • Area liputan DAS Cimanuk yang terdiri dari 4 scene citra: scene 108-3730, scene  108-3740, scene  109-3730, dan scene  109-3740 dengan tanggal perekaman yang berbeda.
  • Sudah terkoreksi geometrik dan radiometrik, namun belum dilakukan kontrol kalibrasi multitemporal.
4.   CITRA ALOS
Satelit ALOS (Advanced Land Observing Satelite) adalah satelit milik Jepang yang merupakan satelit generasi lanjutan dari JERS-1 dan ADEOS yang dlengkapi dengan teknologi yang lebih maju, untuk memberikan kontribusi bagi dunia penginderaan jauh, terutama bidang pemetaan, pengamatan tutupan lahan secara lebih presisi dan akurat.
Satelit ALOS memiliki 3 Sensor Yaitu :
  • Panchromatic Remote Sensing Instrument for Stereo Mapping (PRISM) dengan resolusi 2,5 meter
  • Advanced Visible and Near Infrared Radiometer type-2 (AVNIR-2) resolusi 10 meter
  • Phased Array type L-band Synthetic Aperture Radar (PALSAR) resolusi 10 meter dan 100 meter.
ALOS AVNIR-2
Sensor AVNIR-2 (Advanced Visible and Near Infrared Radiometer type-2) dilengkapi dengan kemampuan khusus yang memungkinkan satelit dapat melakukan observasi tidak hanya pada arah tegak lurus lintasan satelit , tetapi juga mode operasi dengan sudut observasi (Pointing Angle) hingga sebesar + 44o. Kemampuan itu diharapkan dapat membantu dalam pemantauan kondisi suatu area yang diinginkan. Sensor ini dapat dimanfaatkan dalam penyusunan peta penggunaan lahan atau peta vegetasi terutama dengan menggunakan band cahaya tampak (visible) dan inframerah dekat (near infrared).

Karakteristik citra ALOS AVNIR

Jumlah Band 4
Panjang Gelombang Band 1 : 0.42 to 0.50 micrometers (blue)
Band 2 : 0.52 to 0.60 micrometers (green)
Band 3 : 0.61 to 0.69 micrometers (red)
Band 4 : 0.76 to 0.89 micrometers (NIR)
Resolusi Spasial 10 meter
4.   KLASIFIKASI MULTISPEKTRAL
a. Klasifikasi: Pengelompokan objek berdasarkan kesamaan sifat
b. Klasifikasi Multispektral
  • Klasifikasi piksel citra
  • Pengelompokan piksel yang secara spektral sama/mirip.
  • Inputnya adalah nilai piksel citra pada tiap band.
c. Asumsi yang digunakan dalam klasifikasi multispektral adalah bahwa setiap obyek dapat dibedakan dari yang lainnya berdasarkan nilai spaktralnya. Dari beberapa penelitian eksperimental diperoleh hasil bahwa tiap obyek cenderung memberikan pola respon spektral yang spesifik

Kurva pantulan Spektral

Jenis Klasifikasi Multispektral

5.   SUPERVISED CLASSIFICATION

Klasifikasi terselia (supervised) diawali dengan pengambilan daerah sampel/ acuan (training area). Pengambilan sampel tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan pola spektral pada setiap panjang gelombang tertentu, sehingga diperoleh daerah acuan yang baik untuk mewakili suatu obyek tertentu. Sampel yang telah diambil tersebut selanjutnya dijadikan sebagai masukkan dalam proses klasifikasi unuk seluruh citra dengan menggunakan algoritma tertentu.

Maximum Likelihood

Adalah Metode Parameter yang menggunakan fungsi Distribusi kemungkinan Normal untuk menentukan distribusi dan sejumlah set training pixel yang telah diketahui kelasnya. Pixel – pixel lain yang belum diketahui kelasnya ditetapkan termasuk kedalam salah satu kelas – kelas training sampel berdasarkan kemungkinan terbesar

6.   CEK LAPANGAN

Dilakukan untuk checking penampakan visual yang mirip karena masih ada keragu-raguan dalam menggolongkan jenis penggunaan lahan.

Tabel Uji Ketelitian Interpretasi

Keterangan :

A : Sawah Irigasi

B : Hutan

C : Pemukiman

D : Lahan Terbuka

E : Tegalan

F : Ladang

G : Kebun

Ketelitian interpretasi masing-masing jenis penggunaan lahan :

Sawah Irigasi        : (15/18) x 100% = 83.33%

Hutan                       : (3/4) x 100% = 75 %

Pemukiman           : (8/9) x 100 % = 88.89%

Lahan Terbuka     : (4/6) x 100% = 66.67%

Tegalan                    : (5/6) x 100% = 83.3%

Ladang                     : (2/2) x 100% = 100%

Kebun                      : (4/5) x 100% = 80%

Ketelitian interpretasi keseluruhan = 82.45%

7.   HASIL

Resolusi citra ALOS 10 meter, dengan kemampuan itu, penggunaan lahan yang dibuat dibedakan berdasarkan 14 kelas penggunaan lahan :

1.Air tawar
2.Belukar
3.Gedung
4.  Hutan
5.Kebun
6.Pasir Darat
7.Pasir Pantai
8.Pemukiman
9.Rawa
10.Rumput
11.Sawah Irigasi
12.Sawah Tadah Hujan
13.Tanah Terbuka
14.Ladang/ tegalan
8.   KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN:

1.Berdasar Citra ALOS-AVNIR diperoleh peta penggunaan lahan dengan 14 kelas penggunaan lahan
2.Metode interpretasi Multispektral dibutuhkan Ketelitian dan juga training area yang cukup banyak untuk mendapatkan hasil klasifikasi yang baik
3.Setiap ekstraksi informasi dari citra satelit dibutuhkan checking lapangan karena banyak mix piksel yang mungkin terjadi

SARAN

1.Updating peta penggunaan lahan perlu dilakukan untuk kebutuhan penelitian di berbagai bidang
2.Kerjasama dengan instansi diluar PU perlu dibangun untuk meningkatkan kualitas SDM dibidang remote sensing

Pengembangan Sistem informasi Hidrologi

Pengembangan Sistem informasi Hidrologi(1)

Oleh :

Irfan Sudono (2), Radhika (3), Bayu Raharja (3), Rosidatu Diniyah(3)

1)       Disampaikan pada Konsinyasi Peningkatan Mutu Data Hidrologi

2)       Peneliti Hidrologi dan Konservasi Tata Air

3)       Staff Balai Hidrologi dan Tata Air, Calon Peneliti Hidrologi dan Konservasi Tata Air

I. Pendahuluan

Pengelolaan SDA di Indonesia telah mengalami perkembangan diantaranya ditandai dengan adanya perubahan perundangan (UU No.7/2004 dari UU No. 11/1974), penataan kelembagaan (pembentukan Dewan Sumber Daya Air, Balai Besar, Balai Wilayah Sungai), serta penyempurnaan management tools di bidang SDA,  Upaya perubahan peraturan perundangan, penataan kelembagaan, dan penyempurnaan perangkat manajemen sumber daya air perlu terus dilanjutkan sampai dengan tahap implementasi di lapangan.

Amanat Undang-undang No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, mengenai sistem informasi SDA bahwa untuk mendukung pengelolaan sumber daya air, Pemerintah dan pemerintah daerah menyelenggarakan pengelolaan sistem informasi sumber daya air sesuai dengan kewenangannya dan Untuk mendukung pengelolaan sistem informasi sumber daya air tersebut  diperlukan pengelolaan sistem informasi hidrologi, hidrometeorologi, dan hidrogeologi (SIH3) wilayah sungai pada tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota.

Untuk mewujudkan sistem informasi hidrologi, hidrometeorologi, dan hidrogeologi tersebut, pemerintah dengan seluruh jajarannya serta masyarakat hidrologi harus mengelola kegiatan hidrologi secara profesional untuk menjamin data yang memadai, akurat, mutakhir / up todate dan berkesinambungan yang mudah diakses oleh pemangku kepentingan / stakeholder  dengan mengimplementasikan sistem manajemen mutu hidrologi dan mendorong penggunaan produksi nasional peralatan hidrologi secara konsisten untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan SDA.

Pada saat ini Dewan Sumber Daya Air Nasional dalam proses diskusi-diskusi naskah ilmiah untuk penyelesaian konsep penyusunan kebijakan pengelolaan sistem informasi hidrologi, hidrometeorologi, dan hidrogeologi oleh sebagai bahan ketetapan pengelolaan SIH3 untuk ditetapkan oleh Pemerintah (Presiden)

Dalam rangka mendukung tersusunnya sistem informasi hidrologi pada tingkat pengelola hidrologi dan peningkatan kualitas data hidrologi, makalah ini akan menyajikan pengetahuan mengenai pengembangan sistem informasi hidrologi, mulai dari kondisi sistem informasi yang ada saat ini dan pandangan kedepan bahwa data dan informasi hidrologi juga ikut andil dalam global informasi dan dukungan untuk pengelolaan sumber daya air terpadu (IWRM, Integrated Water Resources Management)

Rasionalisasi Jaringan Pos Hidrologi

Rasionalisasi Jaringan Pos Hidrologi

Irfan Sudono (1)

Charisal Akdian Manu (2)

Bayu Raharja (3)

  1. Peneliti / Kepala Seksi Penelitian dan Pengembangan Balai Hidrologi dan Tata Air, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air
  2. Kepala Seksi Perencanaan BWS Nusa Tenggara II
  3. Staff Balai Hidrologi dan Tata Air, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

ABSTRAK

Informasi sumberdaya air yang diantaranya berupa informasi mengenai kondisi hidrologis dan hidrometeorologis, diperlukan untuk mendukung pengelolaan sumber daya air pada suatu wilayah sungai (UU No.7/2004 SDA).  Infomasi ini diperoleh dari jaringan pos hidrometeorologi yang mewakili WS tersebut.

Rasionalisasi bertujuan untuk memperoleh jaringan hidrologi yang efisien, efektif, dan dapat merepresentasikan kondisi hidrologi WS Aesesa saat ini dan mendatang. oleh sebab itu pemilihan satu metode yang hanya menyarankan jumlah,  kerapatan atau distribusi pos bukan jawaban final dan langsung dipilih, melainkan keterpaduan antara metode-metode yang digunakan yaitu Metode Kagan, Faktor Bobot, dan Stepwise dengan aturan (Standar, Pedomean, Manual) dan mempertimbangkan kesesuain kebutuhan infrastruktur yang ada dan rencana pengembangan  yang berkesusaian dengan pola pengembangan Wilayah Sungai.

Usulan jaringan pos hidrologi Wilayah Sungai Aesesa adalah mempertahankan jumlah pos yang ada dengan catatan diperlukan usaha peningkatan pengelolaan, seperti untuk jumlah pos hujan sebanyak 22 buah, hasil analisis Kagan untuk WS dengan luas 7456 km2, mempunyai tingkat kesalahan untuk analisis sebesar 4,15 %, relatif kecil dan sudah cukup baik untuk dipertahankan, namun distribusi lokasi pos perlu ditinjau kembali karena untuk mencapai hal ini diperlukan jarak antar pos hanya 20 km, kesesuain dengan infrastruktur dan catatan delapan (8) tahun terakhir maksimum hanya sepuluh (10) Pos hujan yang beroperasi.

Kata Kunci : Informasi, kerapatan, rasionalisasi, Kagan, Stepwise, Faktor Bobot, Jaringan

ABSTRACT

Information of water resources in the form of information on hydrological and hydrometeorological conditions, necessary to support the management of water resources in the basin (Law No.7/2004 SDA). This information is obtained from hydro-meteorological network that represents of these Basin.

Rationalization aims to obtain efficient and effective hydrological network and can represent the hydrologic conditions Aesesa Basin both present and future. therefore the selection of a method that only suggest the number, density or distribution of the post is not the final answer and directly elected, but the integration between the methods used by the method of Kagan, weight factor, and Stepwise with rules (Standard, Guidance, and Manual) and considering spesific infrastructure needs existing and planned development in accordance with the pattern of river basin management.

Proposed hydrology network for  Aesesa River Basin is to maintain the existing number of hydrological station with the notes necessary of  improvement efforts for hydrological management, such as to the amount of rainfall station are  as many as 22 stations. Kagan analysis results for the basin with an area 7456 km2, has an error rate of 4.15% for the analysis, relatively small and good enough to be maintained, but the distribution of the location of stations needs to be revisited because it is necessary to achieve the distance between stations only 20 km, spesific with infrastructure and records of last eight (8) years, maximum of only ten (10) Post rain which operate.

Key words : Information, density, distribution, rasionalization, Kagan, Stepwise, Weight factor, Hydrological Network

1.  Latar Belakang

Pemerintah dan pemerintah daerah menyelenggarakan pengelolaan sistem informasi sumber daya air sesuai dengan kewenangannya untuk mendukung pengelolaan sumber daya air,.Informasi sumber daya air yang dimaksud meliputi informasi mengenai kondisi hidrologis hidrometeorologis, hidrogeologis, kebijakan sumber daya air, prasarana sumber daya air, teknologi sumber daya air, lingkungan pada sumber daya air dan sekitarnya, serta kegiatan sosial ekonomi budaya masyarakat yang terkait dengan sumber daya air. (UU No.7/2004 SDA)

Kesalahan dalam pemantauan data dasar hidrologi dalam suatu daerah aliran sungai akan menghasilkan data siap pakai yang tidak benar dan mengakibatkan hasil perencanaan, penelitian, dan pengelolaan sumber daya air yang tidak efisien dan tidak efektif., sebaliknya data hidrologi yang dipantau baik, ditunjang oleh metoda yang tepat dan kualitas sumber daya manusia yang cakap akan didapatkan perencanaan, penelitian, dan pengelolaan sumber daya air yang efektif dan efisien.

Kualitas dari data dasar yang akan digunakan untuk suatu analisis sangat tergantung pada seberapa jauh pos hidrologi yang ada dapat memantau karakteristik hidrologi dalam suatu daerah aliran tersebut atau dengan perkataan lain berapa jumlah pos hidrologi yang ideal perlu ditempatkan dalam suatu DAS untuk memantau karakteristik hidrologi secara akurat dan benar.

Permasalahannya adalah apakah jumlah pos hidrologi yang ada saat ini pada WS Aesesa sudah cukup mewakili, sesuai dengan metode rasionalisasi, aturan, kesesuain dengan kebutuhan pada tiap jenis infrastruktur (bendung, bendungan, daerah irigasi, dll) dan rencana pengembangan sesuai pola pengelolan WS Aesesa.

Dalam rangka antisipasi bahwa ketersediaan data dan informasi hidrologi yang memadai, akurat, tepat waktu dan berkesinambungan sudah menjadi tuntutan mendesak untuk dapat segera diwujudkan, sementara sarana prasarana penunjang serta ketersediaan dana operasi dan pemeliharaan yang sangat terbatas sehingga akan berdampak secara langsung pada mutu dan kesinambungan data hidrologi yang dihasilkan, maka perlu perencanaan (rasionalisasi) jaringan hidrologi yang efektif dan efisien.

2.  Permasalahan

Salah satu permasalahan dalam pengelolaan data sumber daya air adalah makin menurunnya kualitas dan kuantitas data hidrologi, untuk itu diperlukan peningkatan pengelolaan hidrologi salah satunya dengan melakukan kajian rasionalisasi untuk dapat mewakili/menggambarkan karakteristik hidrologi suatu wilayah sungai sungai dalam rangka antisipasi sehubungan tuntutan mendesak informasi hidrologi yang memadai, akurat, tepat waktu, dan berkesinambungan dengan tantangan keterbatasan sarana prasarana penunjang, biaya operasi dan pemeliharaan peralatan dan pos hidrologi

3. Lingkup Kegiatan

Kegiatan yang akan dilakukan dibatasi pada permasalahan rasionalisasi jaringan pos hidrologi, mulai dari persiapan, inventarisasi dan pembuatan peta jaringan pos, survai lapangan dan pengumpulan data hidrologi, analisis Rasionalisasi Jaringan Pos Hidrologi, dan evaluasi Hasil Analisis Rasionalisasi Jaringan Pos Hidrologi.

4.  Tujuan

Tujuan dari kegiatan rasionalisasi ini adalah melakukan inventarisasi, identifikasi dan kajian terhadap kondisi jaringan pos hidrologi yang ada pada saat ini dengan melakukan analisis kerapatan jaringan dan kesesuaian di WS Aesesa.

5. Metodelogi

Kenyataan hingga saat ini kualitas data hidrologi yang ada, dapat dikatakan secara umum masih rendah (QA/HDR/MPH/2009), untuk mengatasi dan mencegah makin menurunnya kualitas dan kuantitas data hidrologi, diperlukan pengetahuan tentang kondisi jaringan pos yang ada saat ini dalam bentuk suatu pengkajian ulang terhadap jaringan pos hidrologi yang ada melalui tahapan survai, pengumpulan informasi, jumlah pos hidrologi, lokasi, dan akurasi data yang didapat dari pos-pos tersebut. Mengetahui informasi tentang kondisi jaringan pos hidrologi, hubungan antara pos-pos yang ada serta hasil analisis jaringan pos yang diperoleh dapat memberikan gambaran tentang pola pengelolaan yang optimal dan prioritas pemeliharaan yang diperlukan.

Dalam studi rasionalisasi jaringan pos hidrologi, ada beberapa masalah yang sering timbul dan membutuhkan klarifikasi, yaitu antara lain sebagai berikut:

  1. Pos-pos hidrologi yang ada pada suatu WS, berada pada pengelolaan beberapa instansi (Pekerjaan Umum, Perhubungan, Pertanian, Kehutanan dan lain-lain) sehingga perlu adanya koordinasi.
  2. Tujuan dari pembangunan pos dan metoda pembacaan datanya untuk tiap instansi/ Departemen pengelola kadangkala berbeda, untuk itu diperlukan adanya penyesuaian.
  3. Perencanaan atau pemindahan pos milik instansi lainnya belum tentu disetujui oleh institusi pengelola yang kemungkinan mempunyai kepentingan yang berbeda dengan Pekerjaan Umum. Untuk itu diperlukan sosialiasasi dan diskusi sebelum dilakukan implementasi pemindahan pos.
  4. Kerapatan jaringan hidrologi sangat tergantung pada maksud, tujuan, dan akurasi dari analisis yang akan dibuat, juga biaya operasional dan pemeliharaan.

Metode-metode yang akan dipakai dalam analisis rasionalisasi masih berkembang dan belum diperoleh metode yang baku. Adapun metode yang akan digunakan adalah sebagai berikut :

  • Metode Stepwise
  • Metode Kriging
  • Metode Kagan
  • Metode Analisa Bobot

Mengunakan metode-metode diatas yang digabungkan dengan peratuaran atau pedoman kerapatan jaringan Pos hidrologi (WMO, SNI, Jaminan Mutu Hidrologi, Literatur), serta efektifitas untuk pemantauan infrasrtuktur yang ada dan perkembangan mendatang maka akan didapatkan suatu jaringan pos hidrologi yang efektif dan efisien.

Untuk lebih jelas nya dilampirkan dalam skema seperti disajikan pada gambar berikut.

Diagram rasionalisasi

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.