Rasionalisasi Jaringan Pos Hidrologi

Rasionalisasi Jaringan Pos Hidrologi

Irfan Sudono (1)

Charisal Akdian Manu (2)

Bayu Raharja (3)

  1. Peneliti / Kepala Seksi Penelitian dan Pengembangan Balai Hidrologi dan Tata Air, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air
  2. Kepala Seksi Perencanaan BWS Nusa Tenggara II
  3. Staff Balai Hidrologi dan Tata Air, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air

ABSTRAK

Informasi sumberdaya air yang diantaranya berupa informasi mengenai kondisi hidrologis dan hidrometeorologis, diperlukan untuk mendukung pengelolaan sumber daya air pada suatu wilayah sungai (UU No.7/2004 SDA).  Infomasi ini diperoleh dari jaringan pos hidrometeorologi yang mewakili WS tersebut.

Rasionalisasi bertujuan untuk memperoleh jaringan hidrologi yang efisien, efektif, dan dapat merepresentasikan kondisi hidrologi WS Aesesa saat ini dan mendatang. oleh sebab itu pemilihan satu metode yang hanya menyarankan jumlah,  kerapatan atau distribusi pos bukan jawaban final dan langsung dipilih, melainkan keterpaduan antara metode-metode yang digunakan yaitu Metode Kagan, Faktor Bobot, dan Stepwise dengan aturan (Standar, Pedomean, Manual) dan mempertimbangkan kesesuain kebutuhan infrastruktur yang ada dan rencana pengembangan  yang berkesusaian dengan pola pengembangan Wilayah Sungai.

Usulan jaringan pos hidrologi Wilayah Sungai Aesesa adalah mempertahankan jumlah pos yang ada dengan catatan diperlukan usaha peningkatan pengelolaan, seperti untuk jumlah pos hujan sebanyak 22 buah, hasil analisis Kagan untuk WS dengan luas 7456 km2, mempunyai tingkat kesalahan untuk analisis sebesar 4,15 %, relatif kecil dan sudah cukup baik untuk dipertahankan, namun distribusi lokasi pos perlu ditinjau kembali karena untuk mencapai hal ini diperlukan jarak antar pos hanya 20 km, kesesuain dengan infrastruktur dan catatan delapan (8) tahun terakhir maksimum hanya sepuluh (10) Pos hujan yang beroperasi.

Kata Kunci : Informasi, kerapatan, rasionalisasi, Kagan, Stepwise, Faktor Bobot, Jaringan

ABSTRACT

Information of water resources in the form of information on hydrological and hydrometeorological conditions, necessary to support the management of water resources in the basin (Law No.7/2004 SDA). This information is obtained from hydro-meteorological network that represents of these Basin.

Rationalization aims to obtain efficient and effective hydrological network and can represent the hydrologic conditions Aesesa Basin both present and future. therefore the selection of a method that only suggest the number, density or distribution of the post is not the final answer and directly elected, but the integration between the methods used by the method of Kagan, weight factor, and Stepwise with rules (Standard, Guidance, and Manual) and considering spesific infrastructure needs existing and planned development in accordance with the pattern of river basin management.

Proposed hydrology network for  Aesesa River Basin is to maintain the existing number of hydrological station with the notes necessary of  improvement efforts for hydrological management, such as to the amount of rainfall station are  as many as 22 stations. Kagan analysis results for the basin with an area 7456 km2, has an error rate of 4.15% for the analysis, relatively small and good enough to be maintained, but the distribution of the location of stations needs to be revisited because it is necessary to achieve the distance between stations only 20 km, spesific with infrastructure and records of last eight (8) years, maximum of only ten (10) Post rain which operate.

Key words : Information, density, distribution, rasionalization, Kagan, Stepwise, Weight factor, Hydrological Network

1.  Latar Belakang

Pemerintah dan pemerintah daerah menyelenggarakan pengelolaan sistem informasi sumber daya air sesuai dengan kewenangannya untuk mendukung pengelolaan sumber daya air,.Informasi sumber daya air yang dimaksud meliputi informasi mengenai kondisi hidrologis hidrometeorologis, hidrogeologis, kebijakan sumber daya air, prasarana sumber daya air, teknologi sumber daya air, lingkungan pada sumber daya air dan sekitarnya, serta kegiatan sosial ekonomi budaya masyarakat yang terkait dengan sumber daya air. (UU No.7/2004 SDA)

Kesalahan dalam pemantauan data dasar hidrologi dalam suatu daerah aliran sungai akan menghasilkan data siap pakai yang tidak benar dan mengakibatkan hasil perencanaan, penelitian, dan pengelolaan sumber daya air yang tidak efisien dan tidak efektif., sebaliknya data hidrologi yang dipantau baik, ditunjang oleh metoda yang tepat dan kualitas sumber daya manusia yang cakap akan didapatkan perencanaan, penelitian, dan pengelolaan sumber daya air yang efektif dan efisien.

Kualitas dari data dasar yang akan digunakan untuk suatu analisis sangat tergantung pada seberapa jauh pos hidrologi yang ada dapat memantau karakteristik hidrologi dalam suatu daerah aliran tersebut atau dengan perkataan lain berapa jumlah pos hidrologi yang ideal perlu ditempatkan dalam suatu DAS untuk memantau karakteristik hidrologi secara akurat dan benar.

Permasalahannya adalah apakah jumlah pos hidrologi yang ada saat ini pada WS Aesesa sudah cukup mewakili, sesuai dengan metode rasionalisasi, aturan, kesesuain dengan kebutuhan pada tiap jenis infrastruktur (bendung, bendungan, daerah irigasi, dll) dan rencana pengembangan sesuai pola pengelolan WS Aesesa.

Dalam rangka antisipasi bahwa ketersediaan data dan informasi hidrologi yang memadai, akurat, tepat waktu dan berkesinambungan sudah menjadi tuntutan mendesak untuk dapat segera diwujudkan, sementara sarana prasarana penunjang serta ketersediaan dana operasi dan pemeliharaan yang sangat terbatas sehingga akan berdampak secara langsung pada mutu dan kesinambungan data hidrologi yang dihasilkan, maka perlu perencanaan (rasionalisasi) jaringan hidrologi yang efektif dan efisien.

2.  Permasalahan

Salah satu permasalahan dalam pengelolaan data sumber daya air adalah makin menurunnya kualitas dan kuantitas data hidrologi, untuk itu diperlukan peningkatan pengelolaan hidrologi salah satunya dengan melakukan kajian rasionalisasi untuk dapat mewakili/menggambarkan karakteristik hidrologi suatu wilayah sungai sungai dalam rangka antisipasi sehubungan tuntutan mendesak informasi hidrologi yang memadai, akurat, tepat waktu, dan berkesinambungan dengan tantangan keterbatasan sarana prasarana penunjang, biaya operasi dan pemeliharaan peralatan dan pos hidrologi

3. Lingkup Kegiatan

Kegiatan yang akan dilakukan dibatasi pada permasalahan rasionalisasi jaringan pos hidrologi, mulai dari persiapan, inventarisasi dan pembuatan peta jaringan pos, survai lapangan dan pengumpulan data hidrologi, analisis Rasionalisasi Jaringan Pos Hidrologi, dan evaluasi Hasil Analisis Rasionalisasi Jaringan Pos Hidrologi.

4.  Tujuan

Tujuan dari kegiatan rasionalisasi ini adalah melakukan inventarisasi, identifikasi dan kajian terhadap kondisi jaringan pos hidrologi yang ada pada saat ini dengan melakukan analisis kerapatan jaringan dan kesesuaian di WS Aesesa.

5. Metodelogi

Kenyataan hingga saat ini kualitas data hidrologi yang ada, dapat dikatakan secara umum masih rendah (QA/HDR/MPH/2009), untuk mengatasi dan mencegah makin menurunnya kualitas dan kuantitas data hidrologi, diperlukan pengetahuan tentang kondisi jaringan pos yang ada saat ini dalam bentuk suatu pengkajian ulang terhadap jaringan pos hidrologi yang ada melalui tahapan survai, pengumpulan informasi, jumlah pos hidrologi, lokasi, dan akurasi data yang didapat dari pos-pos tersebut. Mengetahui informasi tentang kondisi jaringan pos hidrologi, hubungan antara pos-pos yang ada serta hasil analisis jaringan pos yang diperoleh dapat memberikan gambaran tentang pola pengelolaan yang optimal dan prioritas pemeliharaan yang diperlukan.

Dalam studi rasionalisasi jaringan pos hidrologi, ada beberapa masalah yang sering timbul dan membutuhkan klarifikasi, yaitu antara lain sebagai berikut:

  1. Pos-pos hidrologi yang ada pada suatu WS, berada pada pengelolaan beberapa instansi (Pekerjaan Umum, Perhubungan, Pertanian, Kehutanan dan lain-lain) sehingga perlu adanya koordinasi.
  2. Tujuan dari pembangunan pos dan metoda pembacaan datanya untuk tiap instansi/ Departemen pengelola kadangkala berbeda, untuk itu diperlukan adanya penyesuaian.
  3. Perencanaan atau pemindahan pos milik instansi lainnya belum tentu disetujui oleh institusi pengelola yang kemungkinan mempunyai kepentingan yang berbeda dengan Pekerjaan Umum. Untuk itu diperlukan sosialiasasi dan diskusi sebelum dilakukan implementasi pemindahan pos.
  4. Kerapatan jaringan hidrologi sangat tergantung pada maksud, tujuan, dan akurasi dari analisis yang akan dibuat, juga biaya operasional dan pemeliharaan.

Metode-metode yang akan dipakai dalam analisis rasionalisasi masih berkembang dan belum diperoleh metode yang baku. Adapun metode yang akan digunakan adalah sebagai berikut :

  • Metode Stepwise
  • Metode Kriging
  • Metode Kagan
  • Metode Analisa Bobot

Mengunakan metode-metode diatas yang digabungkan dengan peratuaran atau pedoman kerapatan jaringan Pos hidrologi (WMO, SNI, Jaminan Mutu Hidrologi, Literatur), serta efektifitas untuk pemantauan infrasrtuktur yang ada dan perkembangan mendatang maka akan didapatkan suatu jaringan pos hidrologi yang efektif dan efisien.

Untuk lebih jelas nya dilampirkan dalam skema seperti disajikan pada gambar berikut.

Diagram rasionalisasi

About raharjabayu
Has worked at Puslitbang SDAir Studied Geoscience at Gadjah Mada University From Yogyakarta Born on August 14, 1986

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: