Jaringan Stasiun Pengamatan Duga Muka Air

Jaringan Stasiun Pengamatan Duga Muka Air

1. Tujuan Pembangunan

Pembangunan Stasiun Pengamatan duga muka air dimaksudkan untuk mendapatkan data fluktuasi muka air pada suatu penampang sungai. Penempatan stasiun pengamatan duga muka air disesuaikan dengan rencana pengembangan dan pengelolaan daerah aliran sungai. Untuk perencanaan sarana dan prasarana sumber daya air yang memerlukan akurasi tinggi seperti pengendalian banjir, penyediaan air baku, perencanaan bangunan air, operasi pengelolaan sumber air, dan didalam estimasi debit sedimen yang terbawa aliran air dibutuhkan stasiun pengamatan duga muka air otomatik atau telemetri.

2. Pemilihan Jenis dan Tipe Bangunan Stasiun Pengamatan

Tipe peralatan untuk pemantauan duga muka air adalah :
– Manual/biasa
Data muka air tidak dimonitor secara kontinyu (3 kali dalam sehari), data muka air harian rata–rata dihitung berdasarkan penjumlahan hasil pembacaan dibagi dengan jumlah pembacaan muka air dalam satu hari. Kelemahan dari jenis peralatan ini adalah tidak semua kondisi muka air dapat terpantau. Pemasangan stasiun pengamatan duga air dapat dilakukan secara bertingkat, posisi miring (Gambar 2.1) atau dengan menggunakan kabel yang berskala dan pemberat.

– Otomatik dan logger
Data muka air dimonitor secara kontinyu dengan menggunakan peralatan otomatik jenis mekanik atau elektronik (logger). Data muka air dapat diproses berdasarkan waktu yang diperlukan misal: jam – jaman, harian, bulanan. Keuntungan dari jenis alat ini adalah semua kondisi data muka air dapat terpantau. Kelemahan dari jenis alat ini adalah biaya operasionalnya lebih mahal.

– Telemetri
Data muka air dapat ditransfer secara tepat waktu, pada setiap waktu, menit, jam, dst.

Tipe bangunan :

Tipe bangunan ditentukan berdasarkan kondisi lapangan apabila kondisi tebing landai maka dipilih tipe bangunan jenis sumuran (flushing), apabila tebing curam dan stabil maka dipilih tipe bangunan konsol, apabila tebing sangat landai kondisi tanah sangat lunak dan posisi muka air jauh dari tebing maka dipilih tipe bangunan jenis gelembung (bubble gauge) atau jenis tekanan (pressure), apabila kondisi sedimentasi sangat tinggi dan dikhawatirkan akan mempengaruhi kondisi pembacaan serta arus sungai sangat deras maka dipilih peralatan jenis infrared, acoustic, sonar, super sonic.

3. Metode Penentuan Jumlah Stasiun

Metode yang dapat digunakan untuk menentukan jumlah stasiun pengamatan duga muka air adalah metode pembobotan. Konsep metode pembobotan ini adalah memberikan suatu nilai (bobot) terhadap fungsi stasiun pengamatan duga muka air, jenis stasiun pengamatan duga muka air, lama pengamatan, kondisi alur sungai, kondisi bangunan stasiun pengamatan duga muka air, kemudahan pengukuran banjir, kecocokan lokasi stasiun pengamatan duga muka air, usulan pemanfaatan stasiun pengamatan duga muka air.

Tahapan yang perlu dilakukan dalam memberikan pembobotan dan melakukan survei dan identifikasi kondisi stasiun pengamatan sebagai berikut :

a) Masih beroperasi, dan diklasifikasikan sebagai stasiun pengamatan duga air:

  • Mutlak-Perlu, dipilih sebagai pos primer
  • Perlu, dilanjutkan pengoperasiannya dengan skala prioritas, ditentukan sebagai pos sekunder atau pos khusus.

b) Sudah tidak beroperasi, dan :

  • Diusulkan di lokasi yang bersangkutan dibangun stasiun pengamatan duga air biasa selama minimal 5 (lima) tahun untuk selanjutnya ditingkatkan menjadi Stasiun Pengamatan duga air Otomatik atau tetap Stasiun Pengamatan duga air Biasa.
  • Diusulkan dihentikan pengoperasiannya

Penjelasan :

  •  Pos hidrometri yang termasuk klasifikasi sebagai pos hidrometri mutlak-perlu dipilih secara sengaja, dipilih berdasarkan fungsi dan kondisi lokasi di lapangan. Tanpa adanya data hidrometri di lokasi tersebut maka analisis hidrologi yang terkait tidak akan akurat dan sulit untuk diganti fungsinya dengan data dari lokasi pos hidrometri lainnya, meskipun berdasarkan kondisi lapangan pos tersebut mungkin sekali perlu dilakukan rehabilitasi atau bahkan relokasi.
  • Pos Hidrometri klasifikasi perlu ditentukan dengan metode analisis bobot (skor), sehingga diperoleh pos hidrometri skala prioritas : (1) Pertama; (2) Kedua dan (3) Ketiga.

4.  Inventarisasi, Identifikasi dan Evaluasi Jaringan yang Ada

Inventarisasi dan Identifikasi jaringan stasiun pengamatan duga air perlu dilakukan sebagai bahan evaluasi kinerja stasiun pengamatan yang ada. Untuk kondisi dimana ada stasiun pengamatan yang tidak berfungsi secara baik maka stasiun tersebut dipertimbangkan untuk direhabilitasi, dipindahkan atau ditutup.

Dari hasil perhitungan pembobotan akan diperoleh nilai skala prioritas masing-masing stasiun pengamatan. Nilai skala prioritas ini dapat berubah sesuai dengan kebutuhan pengembangan dan pengelolaan sumber daya air. Sebagai contoh apabila suatu stasiun pengamatan mendapat nilai SP3, tetapi data stasiun pengamatan tersebut sangat dibutuhkan untuk suatu rencana pengembangan atau pengelolaan sumber daya air maka stasiun pengamatan tersebut berubah statusnya menjadi SP1.

5. Analisis Rencana Jaringan

Dengan memperhatikan hasil analisis pembobotan dan rencana pengembangan serta pengelolaan sumber daya air maka dimungkinkan untuk menambah jumlah stasiun pengamatan dengan kriteria sebagai berikut:

  • Daerah tersebut berpotensi untuk dikembangkan
  • Daerah tersebut belum memiliki stasiun pengamatan
  • Diperlukan untuk pengendalian daya rusak air di daerah tersebut
  • Diperlukan untuk dapat memberikan informasi dini dalam mitigasi bencana banjir
  • Diperlukan untuk memantau laju erosi dan sedimentasi yang terjadi akibat perubahan tata guna lahan

6. Plotting Rancangan Lokasi

Berdasarkan analisis rencana jaringan stasiun pengamatan, lokasi penempatan stasiun pengamatan yang baru ditetapkan dan diplot dalam peta dengan skala 1:100.000 – 1:50.000. Dalam kondisi tidak tersedia peta pada skala tersebut maka plotting rancangan lokasi stasiun pengamatan dapat dilakukan dengan bantuan Google Earth.

7. Survei Lokasi Penempatan Stasiun

Survei lokasi penempatan stasiun pengamatan duga muka air yang meliputi tata cara dalam menetapkan ketentuan, persyaratan dan berbagai pertimbangan dalam pemilihan lokasi stasiun pengamatan duga muka air di sungai. Tata cara ini hanya berlaku untuk stasiun pengamatan duga muka air di sungai yang tidak terpengaruh oleh kondisi pengempangan dan pasang surut, sehingga dapat berfungsi untuk memantau fluktuasi muka air yang dapat ditransfer ke dalam debit dengan menggunakan lengkung aliran (rating curve).

8. Perencanaan dan Penyusunan Spesifikasi Teknis Kebutuhan Sarana dan Prasarana Stasiun

Dari hasil survei lokasi penempatan stasiun pengamatan diperoleh gambaran tentang situasi dan kondisi lapangan. Berdasarkan hal tersebut dapat dibuat:

  • Sketsa denah pencapaian lokasi, lokasi penempatan stasiun pengamatan
  • Gambar rencana struktur bangunan stasiun pengamatan serta jenis peralatan yang akan digunakan untuk lokasi tersebut
  • Gambar rencana struktur bangunan penunjang (cable car, winch cable way, dll)
  • Spesifikasi teknis struktur bangunan dan peralatan

9. Analisis Perhitungan Biaya per DAS

Untuk mendapatkan data hidrologi yang akurat dan berkesinambungan dibutuhkan biaya untuk pengelolaan stasiun pengamatan duga muka air yang terdiri dari:

  • Perencanaan Jaringan Stasiun Pengamatan duga muka air
  • Pembangunan Stasiun Pengamatan duga muka air dan Pemasangan Peralatan
  • Pengukuran Debit dan Pengambilan Sampel
  • Inspeksi dan pengumpulan data
  • Operasi dan Pemeliharaan
  • Kendali Mutu dalam Operasi dan Pemeliharaan

About raharjabayu
Has worked at Puslitbang SDAir Studied Geoscience at Gadjah Mada University From Yogyakarta Born on August 14, 1986

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: